Hari ini hari ulang tahun saya.
Saya terlahir dari keluarga biasa. Bapak saya seorang pegawai negeri sipil dan Ibu saya seorang Ibu rumah tangga biasa. Kami tidak hidup berkecukupan tapi tidak miskin-miskin amat. Sampai hari ini, ulang tahun saya tidak pernah dirayakan oleh keluarga saya. Padahal dulu waktu saya kecil, saya selalu mengangankan sebuah pesta ulang tahun yang meriah. Mengangankan banyak hadiah (walaupun jaman dulu bisa ditebak, hadiah ulang tahun paling lumrah ya buku tulis) dan sebuah kue ulang tahun.
Seinget saya, dua kali saya dihadiahi kue ulang tahun (dihadiahi lo ya, bukan beli sendiri buat dibagi-bagi). Yang pertama waktu kelas 5 SD kalau gak salah. Ibu saya yang buat. Yang dihias dengan mentega sebisanya. Itupun belakangan baru tau, sebelum kita makan, hiasan menteganya sempat dijilat kucing, makanya bentuk hiasanya tidak karuan.
Kue tart kedua, waktu saya kuliah di Politeknik ITB. Kita punya dosen akunting kesayangan, Ibu Tia namanya. Karena yang ulang tahun di bulan Juni ada tiga orang dalam waktu yang bersamaan, Ibu Tia menghadiahi saya kue tart untuk dimakan teman-teman sekelas. Walaupun rame-rame, saya tidak akan lupa. Itu kue tart pertama yang dihadiahi orang selain keluarga.
Setelah saya kerja, ulang tahun selalu dirayakan dengan makan-makan. Karena saya orangnya rajin menggauli berbagai komunitas, acara makan-makannya pun bisa berkali-kali. Dengan teman kantor, teman-teman jalansutra, teman-teman mesra, halah. Pokoknya banyak dan bisa bikin kantong kosong. Pun begitu, selalu membuat bahagia.
Kadang-kadang menerima hadiah juga. Waktu saya di Surabaya, sekertaris departemen saya, Mbak Anna, selalu memberi hadiah gelap di hari ulang tahun. Maksudnya, tiba-tiba di pagi hari, selalu ada kado mungil di meja kerja. Saya tau itu pasti dari dia. Tapi dia gak mau ngaku. Selalu begitu tiap tahun. Setelah Mbak Anna pindah ke Belanda, saya punya 'Gang Nero' yang selalu memberi kado setiap ulang tahun saya.
Kali ini, ulang tahun pertama saya di China. Kado? ada juga ternyata! teman saya Xia Bin memberi saya satu box kopi. Dia tau saya penggila kopi.
Kado ulang tahun terindah sebetulnya adalah teman-teman saya. Terima kasih buat ucapan selamat dan doa yang dikirimkan lewat SMS, email dan Facebook. Semua sangat berarti. Membaca semua pesan itu memberi kehangatan yang menjalar pelan di hati saya.
Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik saya selama ini.
<deep bow>
See all the ways you can stay connected to friends and family
Dua hari ini hujan turun tiada henti. Hujan di sini istiqomah, tidak makin deras, tapi juga tidak mereda. Ajeg gerimis tapi tak henti-henti. Menurut ramalan cuaca, besok masih seperti ini. Jarang-jarang ada petir, kalau tidak salah baru 2 kali saya denger suara gledek di sini.
Eniweiii, seharian ini saya mencari apartemen kontrakan karena apartemen yang saya kontrak sekarang, jatuh tempo pembayarannya tanggal 23 Mei nanti. Flatmate saya mau pindah ke apartemen pacarnya. Jadilah saya terkatung-katung sendirian. Karena saya gak bisa cari flatmate buat gantiin dia dan males bayar untuk dua kamar, akhirnya saya pindah juga.
Teman saya sudah bilang kalau mencari apartemen itu gak gampang. Ternyata emang susah! Sebetulnya saya menemukan satu kamar yang dipindahtangankan dari sebuah apartemen tiga kamar. Apartemen baru, letaknya dekat kantor dengan harga terjangkau. Yang punya kamar sudah ok sama saya, sayangnya dua penghuni lain keberatan tinggal dengan orang asing. Padahal mereka belum pernah ketemu saya. Sakit hati juga di-prejudice seperti itu. Tapi memang resiko tinggal di negeri orang dengan culture yang berbeda.
Beberapa apartemen yang saya lihat hari ini, semuanya disewakan full house, tidak bisa sewa per kamar, dengan kisaran 2,000 sampai 3,000 RMB atau sekitar tiga sampai 4,5 juta. Berat buat saya. Saya memang bisa menyewakan kamar kosong ke orang lain. Iya kalau dapet, kalau enggak? bisa rugi bandar dong. Apalagi s aya harus bayar 3 bulan dimuka plus deposit, plus internet, air dan listrik.
Akhirnya, saya memilih tinggal di kost-kostan dengan harga sekitar 1,000 RMB sebulan. Dipikir-pikir sih masih bikin sesak kantong karena kalau di Indonesia harga segitu saya sudah dapat kamar mewah. Di sini cuma kamar standar dengan kamar mandi di dalam. Tapi ya sudahlah. Apapun hidup harus disyukuri bukan. Baik di mata kita belum tentu baik menurut Gusti Allah.
Yang penting, kamar mandinya ada air panasnya!
Postingan Lain:
- 5 Alasan Saya Kurus
- Kangen
- Sahabat
Archives
- July 2009 (1)
- June 2009 (1)
- May 2009 (3)
- April 2009 (5)
- March 2009 (2)
- February 2009 (2)
- January 2009 (6)
- December 2008 (3)
- November 2008 (5)
- October 2008 (5)
- September 2008 (1)
- August 2008 (5)
- July 2008 (6)
- June 2008 (5)
- May 2008 (4)
- April 2008 (10)
- March 2008 (13)
- February 2008 (4)
- January 2008 (11)
- December 2007 (5)
- November 2007 (10)
- October 2007 (12)
- September 2007 (18)
- August 2007 (27)
- July 2007 (23)
- June 2007 (9)
- May 2007 (6)
- April 2007 (3)
- March 2007 (3)
- February 2007 (2)
- January 2007 (8)
Categories
- Blog Tips (5)
- book (5)
- casual dinning (11)
- coffee (2)
- daily life (8)
- Dalian (11)
- Food (6)
- Keseharian (7)
- life sucks (2)
- melow sumelow (2)
- Money Talk (7)
- mumbling (46)
- Pekerjaan (2)
- sahabat (1)
- snack (1)
- Street Hawker (5)
- Tax (1)
- travelling (2)
- Uncategorized (3)
- walking around (22)
- work (9)

